Minggu, 04 Oktober 2009

Jangan sampai Penyesalan menjadi kata terakhirmu

Tak mudah tuk bisa menyamakan arah. Begitu pula untuk menyelaraskan kiri dan kanan. Tak jarang setiap kali jadi kapten utara, setiap itu pula nahkoda selatan menjadi bukti tak tercapainya bintang.
Angin kini tak lagi berhembus namun kini menerjang.
Hujan kini tak lagi menetes namun menerkam.
Matahari yang dulu terang kini membayang.
Ketulusan kalbu yang menawan juga ikut terbuang.

Apa sebenarnya arti sebuah tujuan. Kalau diri selalu jauh dari penerangan. Hati padam kini seolah tak bisa menjerit lagi. Jiwa dan raga seakan jauh terpisah mengarungi lintas semesta. Begitu pula untuk menyatukannya. Meteor dan bintang seolah menarik jiwa raga dan melarangnya tuk bersatu.
Adakah insan yang bisa membebaskan semua tarikan ini. Pasti tak ada yang mampu tuk membesihkannya.

Namun pasti ada. Ya . . . Sang Kholiq pasti mampu tuk menolong dari semua ini. Seberkas hidayah dan ampunan pasti bisa menyatukannya. Namun adakah seseorang yang berpikir seberapa besar nikmat dari-NYA?

Sungguh merugi kalau tak tahu semua ini. Hanya penyesalan yang tak bisa sirna. Kemenangan hanya sebuah berkas yang tak berbekas. Lautan api tak lebih buruk dari lenyapnya semua ini. Mungkin hidup hanya sebuah perjalanan singkat yang tak bisa lagi di ingat. Kesombongan menjadi kalung perhiasan yang membakar leher. Dusta menjadi nafas yang menyumbat di darah. Serakah menjadi senjata tuk bisa mendaptkan kepuasan yang jelas menjadi tameng untuk sebuah kata kekal.

Oleh karena itu selalu memohon petunjuk kepada-NYA. Karena Dia pasti akan membuat senyummu melebar dan hatimu tentram.

Alhamdulillah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar